“Kamu ini nakal sekali!” Demikian mungkin ungkapan rasa tidak senang kita saat menjumpai siswa tidak mengerjakan soal, mengganggu teman, dsb. Bahkan yang lebih parah guru memukul siswa tersebut saking gregetannya. Pertanyaannya sekarang adalah benarkah mereka bodoh dan nakal?
Sebagai guru, terkadang kita sering lupa bahkan tidak mengerti bahwa sesungguhnya apa yang dilakukan siswa adalah hal yang wajar selama masih dapat dikendalikan mengingat usia mereka merupakan masa bermain dan mencoba berbagai hal. Ketika masuk pertama di SD Al Khairiyah, saya terkejut melihat bermacam polah siswa saat pelajaran. Ada yang bolak balik izin keluar dengan berbagai alasan, ada yang asyik mengambar, atau membaca. Bahkan sering terlihat mereka berjalan-jalan dan berlari di tengah pelajaran.
Ada apa dengan mereka pikir saya saat itu? Bisakah mereka menerima materi? Seiring dengan berjalannya waktu, selama saya mengajar di SD Al Khairiyah justru perilaku siswa di sana menjadi inspirasi saya untuk mempelajari pola pembelajaran yang pas bagi mereka sesuai dengan karakter. Mereka adalah obyek penelitian yang nyata dan dekat dengan kita.
Nakal Atau Kreatif?
Ketika kita mau mendekati mereka dengan cinta. Lalu menjadikan diri kita bukan semata-mata sebagai guru yang ditakuti, tetapi kita menempatkan diri sebagai sahabat mereka dengan belajar melihat dan memahami keinginan mereka. Karena sesungguhnya di balik berbagai polah, justru mereka anak-anak yang kreatif dan menghendaki pembelajaran model baru. Bukan model lama, yang guru sebagai hanya penyampai pesan yang dominan dan mereka sebagai penerima pesan saja.
Mereka menginginkan guru yang memfasilitasi dan mengarahkan mereka, sedang mereka sebagai penerima pesan sekaligus penyampai pesan yang aktif. Dengan modal situasi demikian, bagi guru yang memiliki kemauan untuk menjadi guru yang kreatif akan segera bangkit dan belajar untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM). Supaya kita tidak tergerus tertinggal dan mudah dilupakan karena hanya menginginkan bahwa guru sebagai sosok yang dominan dan menganggap siswanya obyek saja!
Empat tahun yang lalu saya memiliki beberapa siswa kelas 6 yang hampir di semua mata pelajaran mendapat nilai di bawah Standart Ketuntasan Minimal (SKM). Selain itu, mereka juga tidak betah bila lama-lama duduk mendengarkan penjelasan. Mereka juga lebih suka mencontek bila ada tugas. Selaku wali kelas mereka, saya merasa prihatin. Apalagi mereka akan menghadapi UASBN. Namun saya percaya mereka sebenarnya bukan anak-anak yang bodoh, malas atau nakal walau mereka suka menganggu temannya.
Pasti ada cara untuk membantu mereka memahami materi dan memperbaiki perilakunya. Dengan modal keyakinan tersebut, saya mulai menjadikan diri saya bukan sebagai guru saja, melainkan menjadikan teman mereka. Saya coba memahami keinginan mereka, misalnya menemani jalan-jalan setelah try out, menunggui saat makan, melihat mainan yang sering dibawa ke sekolah, mendengarkan cerita-cerita tentang hal-hal yang mereka sukai, dll.
Dengan begini saya dapat mengetahui bagaimana cara membelajarkan mereka berdasarkan kebutuhan mereka. Lalu saya juga dapat tahu kira-kira media apa yang dibutuhkan untuk memfasilitasi mereka agar dapat memahami inti materi pelajaran yang saya ajarkan misalnya Sains.
Hampir setahun saya mengadakan penelitian tak tertulis terhadap mereka. Bahkan saya amati mereka tidak untuk materi saja tetapi untuk membangun karakter jujur, percaya diri, disiplin, berani bersaing, dll. Hal ini sesuai dengan pendapat Miftahul Jinan, “Seharusnya seorang guru tidak puas hanya ketika seluruh siswanya telah mampu mengerjakan soal-soal dan menyebutkan bagian-bagian dengan baik. Ada pertanyaan mendasar yang patut diajukan pada mereka. Wadah atau sikap apakah yang telah dibangun ketika pelajaran-pelajaran tersebut disampaikan kepada siswa? Materi dapat berubah-ubah, tetapi wadah atau sikap akan selalu digunakan hingga dewasa” (dalam Aku Wariskan Moral Bagi Anakku).
Mencari Mutiara di Dasar ‘Laut’
Karenanya, saya berjuang untuk membangun karakter mereka. Mereka harus percaya bahwa UASBN harus dihadapi dengan pede, jujur, dan disiplin dalam mengerjakan shalat. Buat apa mereka mendapat nilai 9 jika hasil mencontek?
Alhamdulillah, pada akhirnya mereka yang sering dikatakan nakal dan malas dapat berubah karakternya secara signifikan meski tidak banyak. Tapi saya cukup bangga mereka mendapat nilai Sains di UABN dengan nilai terendah 6 dan tertinggi 9 dengan jujur dan pede. Dua kata terakhir ini menjadi barang sangat langka di negeri ini. Para gurulah yang harus menemukannya di dalam jiwa para siswanya ibarat orang yang harus me
nyelam di kedalaman untuk mencari mutiara.{}
*Ditulis oleh Sumi’ah,S.Pd (guru SD Al Khairiyah, Surabaya) untuk majalah Al Falah YDSF






