PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MEMBANGUN KEBERADABAN BANGSA

Ditulis Pada November 13, 2010 Di Artikel dan Opini (imadiklus.com)

 

 

 

Mengawali tulisan ini, patut kiranya kita memberikan “makna” lebih tentang tema besar yang diangkat pada acara Hari Pendidikan Nasional tahun 2010 yakni ”Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Karena Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Nagara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.

”Dari mana asalmu tidak penting, Ukuran tubuhmu juga tidak penting, Ukuran Otakmu cukup penting, ukuran hatimu itulah yang sangat penting” karena otak (pikiran) dan kalbu hati yang paling kuat menggerak seseorang itu ”bertutur kata dan bertindak” Simak, telaah, dan renungkan dalam hati apakah telah memadai ”wahana” pembelajaran memberikan peluang bagi peserta didik untuk multi kecerdasan yang mampu mengembangkan sikap-sikap; kejujuran, integritas, komitmen, kedisipilinan, visioner, dan kemandirian.

Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan, dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui perdebatan tersebut kita banyak belajar, bagaimana toleransi dan keterbukaan para Pendiri Republik ini dalam menerima pendapat, dan berbagai kritik saat itu. Melalui pertukaran pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin Bangsa itu untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka.

Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila, dan landasan konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928, ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia.

Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa, dari pendidikan informal, dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Tantangan saat ini dan ke depan bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa. Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial, dan budaya bangsa.

”Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”, adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia. Pesan akhir tulisan ini, berikan layanan yang terbaik kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan sehingga terwujud masyarakat yang ”beradab” yang mengimplementasikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia…….. Pembiasaan berperilaku santun dan damai adalah refreksi dari tekad kita sekali merdeka, tetap merdeka. (Muktiono Waspodo)

Iklan

Membangun Karakter Anak Didik dengan Kekraban dan Cinta

“Kamu ini nakal sekali!” Demikian mungkin ungkapan rasa tidak senang kita saat menjumpai siswa tidak mengerjakan soal, mengganggu teman, dsb. Bahkan yang lebih parah guru memukul siswa tersebut saking gregetannya. Pertanyaannya sekarang adalah benarkah mereka bodoh dan nakal?

Sebagai guru, terkadang kita sering lupa bahkan tidak mengerti bahwa sesungguhnya apa yang dilakukan siswa adalah hal yang wajar selama masih dapat dikendalikan mengingat usia mereka merupakan masa bermain dan mencoba berbagai hal. Ketika masuk pertama di SD Al Khairiyah, saya terkejut melihat bermacam polah siswa saat pelajaran. Ada yang bolak balik izin keluar dengan berbagai alasan, ada yang asyik mengambar, atau membaca. Bahkan sering terlihat mereka berjalan-jalan dan berlari di tengah pelajaran.

Ada apa dengan mereka pikir saya saat itu? Bisakah mereka menerima materi? Seiring dengan berjalannya waktu, selama saya mengajar di SD Al Khairiyah justru perilaku siswa di sana menjadi inspirasi saya untuk mempelajari pola pembelajaran yang pas bagi mereka sesuai dengan karakter. Mereka adalah obyek penelitian yang nyata dan dekat dengan kita.

Nakal Atau Kreatif?

Ketika kita mau mendekati mereka dengan cinta. Lalu menjadikan diri kita bukan semata-mata sebagai guru yang ditakuti, tetapi kita menempatkan diri sebagai sahabat mereka dengan belajar melihat dan memahami keinginan mereka. Karena sesungguhnya di balik berbagai polah, justru mereka anak-anak yang kreatif dan menghendaki pembelajaran model baru. Bukan model lama, yang guru sebagai hanya penyampai pesan yang dominan dan mereka sebagai penerima pesan saja.

Mereka menginginkan guru yang memfasilitasi dan mengarahkan mereka, sedang mereka sebagai penerima pesan sekaligus penyampai pesan yang aktif. Dengan modal situasi demikian, bagi guru yang memiliki kemauan untuk menjadi guru yang kreatif akan segera bangkit dan belajar untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM). Supaya kita tidak tergerus tertinggal dan mudah dilupakan karena hanya menginginkan bahwa guru sebagai sosok yang dominan dan menganggap siswanya obyek saja!

Empat tahun yang lalu saya memiliki beberapa siswa kelas 6 yang hampir di semua mata pelajaran mendapat nilai di bawah Standart Ketuntasan Minimal (SKM). Selain itu, mereka juga tidak betah bila lama-lama duduk mendengarkan penjelasan. Mereka juga lebih suka mencontek bila ada tugas. Selaku wali kelas mereka, saya merasa prihatin. Apalagi mereka akan menghadapi UASBN. Namun saya percaya mereka sebenarnya bukan anak-anak yang bodoh, malas atau nakal walau mereka suka menganggu temannya.

Pasti ada cara untuk membantu mereka memahami materi dan memperbaiki perilakunya. Dengan modal keyakinan tersebut, saya mulai menjadikan diri saya bukan sebagai guru saja, melainkan menjadikan teman mereka. Saya coba memahami keinginan mereka, misalnya menemani jalan-jalan setelah try out, menunggui saat makan, melihat mainan yang sering dibawa ke sekolah, mendengarkan cerita-cerita tentang hal-hal yang mereka sukai, dll.

Dengan begini saya dapat mengetahui bagaimana cara membelajarkan mereka berdasarkan kebutuhan mereka. Lalu saya juga dapat tahu kira-kira media apa yang dibutuhkan untuk memfasilitasi mereka agar dapat memahami inti materi pelajaran yang saya ajarkan misalnya Sains.

Hampir setahun saya mengadakan penelitian tak tertulis terhadap mereka. Bahkan saya amati mereka tidak untuk materi saja tetapi untuk membangun karakter jujur, percaya diri, disiplin, berani bersaing, dll. Hal ini sesuai dengan pendapat Miftahul Jinan, “Seharusnya seorang guru tidak puas hanya ketika seluruh siswanya telah mampu mengerjakan soal-soal dan menyebutkan bagian-bagian dengan baik. Ada pertanyaan mendasar yang patut diajukan pada mereka. Wadah atau sikap apakah yang telah dibangun ketika pelajaran-pelajaran tersebut disampaikan kepada siswa? Materi dapat berubah-ubah, tetapi wadah atau sikap akan selalu digunakan hingga dewasa” (dalam Aku Wariskan Moral Bagi Anakku).

Mencari Mutiara di Dasar ‘Laut’

Karenanya, saya berjuang untuk membangun karakter mereka. Mereka harus percaya bahwa UASBN harus dihadapi dengan pede, jujur, dan disiplin dalam mengerjakan shalat. Buat apa mereka mendapat nilai 9 jika hasil mencontek?

Alhamdulillah, pada akhirnya mereka yang sering dikatakan nakal dan malas dapat berubah karakternya secara signifikan meski tidak banyak. Tapi saya cukup bangga mereka mendapat nilai Sains di UABN dengan nilai terendah 6 dan tertinggi 9 dengan jujur dan pede. Dua kata terakhir ini menjadi barang sangat langka di negeri ini. Para gurulah yang harus menemukannya di dalam jiwa para siswanya ibarat orang yang harus me
nyelam di kedalaman untuk mencari mutiara.{}

*Ditulis oleh Sumi’ah,S.Pd (guru SD Al Khairiyah, Surabaya) untuk majalah Al Falah YDSF

Potensi Kreativitas Pada Anak

Setiap anak pasti memiliki kreativitas, karena pada dasarnya kreativitas bertujuan untuk memanfaatkan segala kemungkinan, bahkan yang bertentangan dengan rasio. Karena perkembangan kognitif anak belum mencapai taraf logika formal, maka lebih besar pula kesempatan bagi anak untuk bereksperimen dengan kreativitasnya tersebut.

Pada akhirnya sikap lingkunganlah yang akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Bila anak dibesarkan di lingkungan yang sangt memperhatikan logika dan aturan yang kaku, maka anak juga akan belajar menjadi taat pada aturan dan cenderung kaku. Tetapi bila anak sangat dibebaskan dalam berkreasi, ia akan memiliki rasa aman bahwa kreatif tidak jelek dan mungkin dapat menolak semua aturan. tentu saja cara memfasilitasi perkembangan kreativitasnya namun juga mengerti bahwa aturan perlu ada dan perlu ditaati.

Merenda Potensi Anak Sejak Dini
Saat seorang anak berusia 4 tahun, ia memasuki tahap perkembanga baru yang disebut masa kanak-kanak awal. Bila di masa-masa sebelumnya lingkungan anak masih terbatas di rumah dan sekitarnya, maka kini anak mulai melebarkan lingkungannya. Salah satunya adalah dengan memasuki Play Group atau Taman Kanak-Kanak. Di tempat barunya ini, anak akan mengenal lebih banyak orang, baik yang sebaya dengan dirinya maupun orang dewasa lainnya.

Pengalaman baru ini akan memberi banyak kesempatan bagi anak untuk mengoptimalkan potensi yang dimilkinya; pengalaman berbagi baru, pengalaman mengerjakan permainan baru, pengalaman berinteraksi dengan ibu/bapak guru, dan pengalaman untuk mencoba mandiri. Kesempatan inilah yang membuat pendidikan di TK menjadi sesuatu hal yang penting dan sangat bermanfaat bagi perkembangan anak.

Oleh karena itu, Taman Kanak-Kanak mempunyai peran penting dalam mengembangankan potensii anak, selain orang tua sebagai pendidik pertama anak. Sinergi yang baik antara orang tua dan TK akan menghasilkan anak-anak yang bahagia, cerdas, lincah dan kaya emosi.

Potensi Apa Yang Anak Miliki?
Untuk memaksimalkan peran TK dalam pengembangan potensi anak, maka kiranya perlu diketahui dahulu potensi yang dimiliki anak pada usia ini, sehingga dapat disusun suatu program/metode pengembangan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan anak.

Potensi pada Kemampuan Kognitif/berpikir
Fungsi mental anak usia ini akan berkembang dengan sangat cepat. Anak mulai mengembangkan cara berpikir yang lebih maju dari masa sebelumnya, meskipun masih banyak keterbatasannya. bebrapa ciri acra berpikirnya berupa egosentris (segala hal dipandang dari sudut anak sendiri), symbolic functioning (anak bisa memberi arti/makna pada sesuatu), animisme (menganggap bahwa semua benda di sekitarnya memiliki kehidupan), mengenal hubungan sebab-akibat sederhana, mengenal konsep sederhana (bentuk, warna, ukuran progresif, waktu, bagus/jelek, spasial, dll), fungsi memori yang semakin bertambah, kemampuan berbahasa yang meningkat.

Potensi Pada Kemampuan Sosial dan Kepribadian
Sumbangan dari pola asuh orang tua, sekolah, cara bermain dan permainan, pengaruh teman sebaya menyebabkan seorang anak mengadopsi peran gender yang diajarkan adanya secara langsung maupun tidak langsung. Peran gender ini perlu untuk diketahui anak, tetapi penting untuk tidak terlalu menekankan anak agar hanya mencoba segala sesuatu yang sesuai dengan gendernya.

Rasa takut, kemarahan dan agresi, sedih, rasa cemburu dengan saudara sekandung, dan respons emosi yang lain merupakan manifestasi dari perkembangan emosi yang lebih bervariasi.

Anak perlu dilatih dalam hal penerapan disiplin. Penundaan atau kegagalan dalam memberikan disiplin dapat berakibat kurang baik dan akan lebih sulit diperbaiki di masa depan.

Potensi Pada Kemampuan Psikomotor
Perkembangan fisik dan motorik adalah hal yang pertama kali akan terlihat perubahannya. Secara umum perkembangan psikomotor terbagi dalam 2 bagian yaitu motorik kasar dan motorik halus. erkembangan yang terjadi pada anak saat usia 4 – 6 tahun adalah :

berjalan dan berlari (mengontrol kegiatan berhenti, mengatur kecepatan, mengatur arah)
melompat (lompatan lebih tinggi, arah lompatan ke depan / belakang / samping)
menangkap (bisa menangkap bola yang lebih kecil, menangap dengan telapak tangan)
menulis (memegang pensil dengan benar, mengontrol bentuk goresan, mulai mengatur kekuatan tekanan garis)
membuat bangun (dengan balok yang lebih kecil, mengatur letak balok dengan menjaga keseimbangan bangun)
mengontrol ketrampilan tangan dan jari (melipat, menggunting, menempel)

(Disarikan Dari Bahan Presentasi Oleh Sherly Saragih T., Psi–Psikolog Klinik Anakku Bekasi–Pada Simposium Awam “Motivasi Belajar Pada Anak & Permasalahannya”)

Program Beasiswa Anak Rawan Putus Sekolah

Menghadapi waktu transisi, dalam dunia pendidikan. dalam benak seseorang ada yang merasa bahagia karena mereka akan beralih jenjang dalam pendidikan dari SD ke SMP dari SMP ke SMA bahkan dari SMA menuju perguruan tinggi.namun dari ribuan anak yang merasa bahagia, disisi lain ada beberapa anak yang harus bersedih. mereka harus mengubur dalam-dalam impian mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. saran dari orang tua yang menginginkan anaknya untuk segera bekerja dan tidak usah melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena orang tua tidak mampu lagi membiayai, menjadikan alasan yang kuat bagi orang tersebut untuk mengubur cita-citanya.
untuk itu, kami dari taman bacaan rumah cendikia menjelang masa transisi (pergantian) jenjang pendidikan ini, mengadakan program beasiswa anak arawan putus sekolah, dengan target  4 anak rawan putus sekolah yang menjadi anggota taman bacaan rumah cendikia. bagi rekan-rekan yang ingin membantu program tersebut, kami dengan senang hati bekerjasama dengan rekan-rekan, baik itu personal ataupun kelembagaan.

Kunci Pendidikan yang Baik

Sekolah telah menyediakan serangkaian materi untuk mendidik seorang anak hingga dewasa termasuk perkembangan dirinya. Namun, tanggung jawab pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah. Kunci menuju pendidikan yang baik adalah keterlibatan orang dewasa yaitu orang-tua yang penuh perhatian. Jika orang-tua terlibat langsung dalam pendidikan anak-anak di sekolah, maka prestasi anak tersebut akan meningkat. Setiap siswa yang berprestasi dan berhasil menamatkan pendidikan dengan hasil baik selalu memiliki orang-tua yang selalu bersikap mendukung. Apa yang dapat dilakukan oleh orang-tua bagi anaknya setelah mereka memasuki pendidikan di sekolah? Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang-tua agar anaknya dapat berprestasi di sekolah.

  • Dukungan Orang-Tua

    Orang-tua sebaiknya memberi perhatian kepada anak-anak mereka dan menanamkan kepada mereka nilai dan tujuan pendidikan. Mereka juga berupaya mengetahui perkembangan anak mereka di sekolah. Caranya adalah dengan berkunjung ke sekolah untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara langsung mempengaruhi pendidikan anak Anda.

  • Kerja Sama dengan Guru

    Biasanya apabila timbul masalah-masalah gawat, barulah beberapa orang-tua menghubungi guru anak-anak mereka. Sebaiknya, orang-tua perlu mengenal guru di sekolah dan menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Berkomunikasilah dengan guru untuk perkembangan anak Anda. Guru juga perlu diberitahu bahwa Anda memandang penting pendidikan anak Anda di sekolah sebagai bagian kehidupannya. Ini akan membuat guru lebih memperhatikan anak Anda. Hadirilah pertemuan orang-tua murid dan guru yang diselenggarakan oleh sekolah. Pada pertemuan ini, Anda memiliki kesempatan untuk mengetahui prestasi akademis anak Anda serta perkembangan anak Anda di sekolah.

    Jika seorang guru mengatakan hal yang buruk mengenai anak Anda, dengarkan guru tersebut dengan penuh respek, dan selidiki apa yang ia katakan. Anda juga dapat menanyai guru-guru di sekolah mengenai prestasi, sikap, dan kehadiran anak di sekolah. Jika seorang anak sering bermuka dua, maka penjelasan dari guru bisa jadi mengungkap hal-hal yang disembunyikan anak Anda saat bersikap manis di rumah.

  • Sediakan waktu untuk anak

    Selalu sediakan waktu yang cukup banyak bagi anak Anda. Jika anak pulang sekolah, umumnya mereka cukup stres dengan beban pekerjaan rumah, ulangan, maupun problem lainnya. Sungguh ideal jika orang-tua misalnya seorang ibu berada di rumah pada saat anak-anak di rumah. Seorang anak akan senang bercerita ketika pulang sekolah seraya mengeluarkan semua keluhan dan bebannya kepada orang-tua. Bisa jadi mereka mulai menceritakan teman-temannya yang nakal yang mulai menawari rokok dan narkoba. Anda bisa segera tanggap dengan hal tersebut jika Anda menyediakan waktu bagi anak-anak Anda.

  • Awasi kegiatan belajar di rumah

    Tunjukkan Anda berminat pada pendidikan anak Anda. Pastikan anak-anak Anda sudah mengerjakan pekerjaan rumah (PR) mereka. Wajibkan diri Anda untuk mempelajari sesuatu bersama anak-anak Anda. Membacalah bersama-sama mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk memeriksa pekerjaan rumah anak Anda. Kendalikan waktu menonton TV, Internet dan bermain game dari anak-anak Anda.

  • Ajari tanggung jawab

    Sekolah umumnya akan memberi banyak tugas untuk dipersiapkan anak di rumah dan di sekolah. Apakah mereka mengerjakan tugas-tugas itu dengan benar dan baik? Seorang anak dapat bertanggung jawab mengerjakan tugas mereka di sekolah jika Anda telah mengajar mereka untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Cobalah mulai memberikan anak Anda pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari seperti membersihkan tempat tidur sendiri menurut jadwal yang spesifik. Pelatihan di rumah seperti itu akan membutuhkan banyak upaya di pihak Anda karena perlu diawasi. Tetapi hal itu akan mengajar anak Anda rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam kehidupan.

  • Disiplin

    Jalankan disiplin dengan tegas namun dengan penuh kasih sayang. Jika Anda selalu menuruti keinginan anak, maka mereka akan menjadi manja dan tidak bertanggung jawab. Problem lain bisa muncul jika Anda terlalu memanjakan anak Anda seperti seks remaja, narkoba, prestasi yang buruk, dan masalah lainnya.

  • Kesehatan

    Jaga kesehatan anak Anda agar prestasi belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang cukup untuk anak Anda. Anak-anak yang kelelahan tidak dapat belajar dengan baik. Lalu hindari makanan seperti junk food, karena selain menyebabkan problem obesitas, juga mendatangkan pengaruh yang buruk terhadap kesanggupannya untuk berkonsentrasi.

  • Jadi teman terbaik

    Jadilah teman terbaik bagi anak Anda. Luangkan waktu untuk berbagi berbagai hal dengan mereka. Seorang anak membutuhkan semua teman yang matang yang bisa ia dapatkan.

Sebagai orang-tua, Anda dapat menghindari banyak problem dan kekhawatiran atas pendidikan anak Anda dengan mengingat bahwa kerja sama yang sukses dibangun di atas komunikasi yang baik. Kerja sama yang baik dengan para pendidik di sekolah juga dapat membantu melindungi anak Anda.

http://kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/192-pendidikan-yang-baik-untuk-anak.html

Check out my Slide Show!

Out Bond Bareng Sahabat Cendikia

Out Bareng Sahabat Cendikia

Jumat tepatnya 18 Desember 2009 para sahabat cendikia terlihat begitu bersemangat bermain di kebun di desa Rempoah. mereka bukan hanya bermain namun lebih dari sekedar bermain. ketika sebelumnya para sahabat Rc hanya bermain biasa dengan tidak mendapatkan pelajaran dari setiap permainan, namun kali ini setiap permainan memberikan hikmah tersendiri bagi para sahabat cendikia. permainan itu berupa out bond.

Out bond ini sengaja di adakan oleh Rumah cendikia (RC) untuk para sahabat (anak-anak) yang selama ini belajar di rumah cendikia, namun tidak menutup kemungkinan ketika anak-anak yang lain ikut pun di perbolehkan. harapan kami dengan kegiatan out bond ini mampu menanamkan rasa keberanian, kerjasama dan saling menghargai sesama. dan tentunya mereka lebih semangat lagi untuk belajar di rumah cendikia.

Keceriaan, semangat, dan antusiasme terlihat jelas dalam wajah sahabat cendekia……..

Rumah Cendikia

Rumah Cendikia


Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu target pembangunan Indonesia. Pemberdayaan masyarakat bukan hanya tanggungjawab pemerintah setempat, namun pemberdayaan masyarakat adalah tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, masyarakat setempat serta elemen – elemen lainnya. Pemberdayaan  dapat dilakukan dalam berbagai sektor. salah satunya adalah melalui sektor pendidikan. Melalui pemberdayaan pendidikan diharapkan masyarakat dapat memperoleh berbagai pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami dan memanfaatkan berbagai potensi yang dimilikinya.
Pemberdayaan pendidikan harus dilakukan pada semua jenjang usia terlebih pada masa anak-anak. Pada masa anak-anak merupakan masa yang paling potensial untuk membangun potensi manusia. Masa anak merupakan masa terjadinya pembentukan sel-sel otak yang berfungsi mengembangkan berbagai  kecerdasan. Demikian penting masa tersebut seharusnya lingkungan memberi yang terbaik untuk berkembangnya berbagai kecerdasan yang dimiliki anak.

Data statistik menunjukkan jumlah anak di Indonesia usia 0-10 tahun sebanyak 28 juta jiwa. Dan baru 7 % tersentuh oleh pendidikan dan sebagian besar tersebar di wilayah pedesaan. Dengan demikian masih cukup banyak anak-anak Indonesia yang membutuhkan sentuhan pendidikan.
Program Rumah Cendikia merupakan program layanan pendidikan non formal dilakukan melalui penyediaan sarana pembelajaran pada suatu daerah secara terencana dan terarah.